Market in Abidjan, 1969.
by Paul Almasy
Exploring the Dream Worlds of Os Gêmeos
Brazilian artists Octavio & Gustavo Pandolfo, identical twin brothers who create painted works together, are known under the moniker Os Gêmeos (@osgemeos), Portuguese for “The Twins.” Their distinct style features yellow-skinned, skinny caricatures that come from dreams they say they have both experienced. The twins’ stunning dream-world-to-real-world collaborative style was influenced by artistic family members in addition to traditional hip-hop culture and the Brazilian pixação movement in the late eighties.
Os Gêmeos have hosted exhibitions at the Los Angeles MoCA, The Museum of Contemporary Art San Diego, Dépayz’arts in France and Museu Colecção Berardo in Lisbon, just to name a few. In addition, their street art can be found in Berlin, New York, Portugal, Florida, London and across Brazil. Follow the progress of many pieces and murals through their Instagram account at http://instagram.com/osgemeos.
I don’t know which technology is on its way in and which technology is on its way out. You can’t even keep track of this stuff these days. You can master a technology today and tomorrow, it will be replaced by newer, better technology.
So learn what you can about people, not technology. What makes them tick, what frustrates them, what would make their world a better place to live in. Because technology is here today, gone tomorrow, but you’ll always have people.
Waktu menunjukkan pukul 01:00 pagi dan mata gue masih saja terjaga. Jadi kalong memang sudah jadi kebiasaan gue meskipun keesokan harinya harus bangun pagi dan kerja lagi, menjalani rutinitas yang sama. Oke, sebetulnya bukan mau ngomong ke arah sana sih, cuma mau ngomongin kalau misalnya 10-15 tahun lalu saat smartphone/tablet belum bisa ada selalu dalam genggaman, akses internet mungkin masih dengan bunyi modem yang ributnya setengah mampus (pasti masih pada inget kan jingle 0809 8 9999..Telkomnet Instan). Boro-boro mau digenggam sambil tiduran, mau pakai aja dengan acara rebutan dengan bokap atau saudara. Terus pasti lewat dari jam 9 malam, sudah pada nongkrong di kamar mungkin sambil baca buku atau masih jaman SMSan sama teman maupun (ehem..)pacar.
Tapi apa yang sudah terjadi hanya dalam 10 tahun terakhir benar-benar menakjubkan. Pertama, mulai dari adanya Blackberry lalu orang-orang bersemangat tukeran pin BB, masuk lagi era Twitter & Facebook yang biasanya kalau hp Cina sudah langsung ada launchernya (yang dikira kebanyakan orang itu berbentuk aplikasi) lalu lahirlah era iPhone di tahun 2007.
Kadang sih suka terbayang kalau melihat keadaan saat ini apakah masih bisa gue kembali ke saat-saat di mana internet belum seluas saat ini. Informasi apapun tidak terbendung lagi. Mau di ujung dunia manapun kejadiannya, kita yang ada di Indonesia pasti bisa tahu hanya dalam hitungan detik. Brilian kan! Ini bukan hal yang sederhan dan simpel lho! Kita beranggapan ini sederhana karena sudah menjalaninya setiap hari, tapi bagaimana dengan orang-orang lain di Indonesia yang masih tinggal di daerah terpencil. Listrik saja susah, apalagi internet bukan.
Intinya dengan adanya Internet, terus terang untuk gue memberikan dampak yang sangat positif bahkan super positif. Semua itu kembali lagi kepada penggunanya kok, mau dimanfaatkan secara positif atau negatif. Banyak banget hal positif yang bisa diambil dari internet selama kita berpikiran terbuka dan tidak skeptik akan sesuatu.
Kira-kira berikut hal positif yang gue dapatkan dengan menggunakan internet:
1. Sekarang gue menghidupi diri gue dengan pekerjaan yang berhubungan dengan internet. See! internet itu positif kan
2. Pacar gue ketemu di jejaring sosial dan itu tentunya karena bantuan koneksi internet
3. Gue punya banyak teman baru karena internet. Mereka sama sekali nggak pernah gue kenal sebelumnya, tapi saling berkenakan di dunia maya dan bisa ikut kopdar
4. Internet itu gudang ilmu. Jujur gue lebih mendapatkan banyak ilmu saat menggunakan internet. Meskipun saat kuliah, dosen mengajarkan beberapa hal, tetapi tidak akan lengkap tanpa internet
5. Internet membuat gue lebih kreatif dan bersemangat untuk menjadi berbeda dari yang lain. Internet itu sarang motivasi dan pesan positif. Asalkan kita pintar menyaring informasinya
Kalau lo, apa sih arti positif internet buat lo?
Innovative marketing campaign to encourage smartphone owners to take picture during advert break
(Source: helloyoucreatives)
Ini jadi masalah gue dari dulu yang bikin kebanyakan orang bilang
“perfeksionisnya elo dan ritme kerja lo yang terlalu cepet membuat lo lebih cocok untuk jadi entrepreneur dibandingkan dengan jadi karyawan kantoran biasa, ke.”
Atau….
“Lo sebenarnya bisa jadi th good team player. Tapi kadang lo kurang bisa keep up sama kemampuan orang lain. Ingat ke, di dunia ini ga semua orang bisa jadi fast learner kaya lo. People still need time to learn”
Ada lagi yang seperti ini
“Kerja mah nyantai aja ke, ga perlu serius. Terlalu loyal juga sakit hati sama perusahaan. Selama masih dibayar, kerjakan aja sebisanya”
Herannya beberapa waktu belakangan gue baru aja baca bahwa seorang Taurus memang keras kepalanya parah banget, cuma bukan tipe keras kepala yang moron dan bego, cuma keras kepala yang bisa punya rasional. Orang Taurus itu selalu ingin berbeda dari yang lain dengan cara berbeda juga. Mereka nggak suka sama orang yang neko-neko apalagi sama yang nggak percaya diri. It’s like…come on people..you only live once, stay positive and think that you can do everything if you believe
Yeah, but one thing for sure that really make me sick: benar adanya bahwa terlalu loyal bukan sesuatu yang baik bagi banyak orang. Terkadang itu yang membuaf gue berpikir bahwa kenapa ada orang yang sangat sukses seperti mendiang Steve Jobs namun ada juga yang hidupnya stuck di situ-situ saja, malas berinovasi, takut menjadi berbeda, nyaman dengan diri yang biasa saja. Entah kenapa orang takut untuk menjadi beda?
Saat ini, gue hanya berusaha berpegang teguh dengan apa yang gue percaga bahwa hidup gue diberikan sama Tuhan bukan untuk menjadi orang yang sia-sia. Udah cukuplah hidup gue susah di rumah dengan orang tua gue yang selalu beradu mulut, kebayang nggak lo bangun pagi dengan suara Ibu lo nangis karena Bapak lo nyakitin hati dia dan lo masih harus dealing sama a bunch of people who’s ready to ruin your whole day. Sometimes it’s sucks, dude
But it’s my life. I deal with it. Like it or not!
——Alunan: In My Life, The Beatles—-
Sore ini, 14 April 2013
Di luar hujan berdansa riang gembira disertai tabuhan petir menggelegar
Kamu tahu bagaimana rasanya melihat hujan dan menatapnya nanar lalu muncul aliran perasaan yang aneh di dalam sukma?
Oh ya, apa kabar kita ya?
Sudah berminggu-minggu aku menantimu untuk duduk di hadapanku saat ini
Menghabiskan segelas Thai Tea Colatta dingin dan sebuah donat lembut yang berisikan jelly anggur
Aku ingin sekali melihat matamu sembari membuang waktu dan berbicara, bercanda serta tertawa
Membicarakan pekerjaanmu yang begitu banyak itu dan bagaimana akhirnya kita sama-sama berhasil menabung dan mengunjungi negara masing-masing
Serta akhirnya berkata “Persetan dengan LDR. Kita bisa bertahan!”
Kadang aku mengerti kenapa aku suka datang ke sebuah coffee shop hanya untuk menyendiri, membaca buku bagus atau sekedar menuliskan beberapa goresan tinta virtual ke dalam buku harian maya ini
Aku suka dengan ketenangan dan rasa sepi
Rasanya seperti bertemu dengan dirimu meski kau tak ada di sini
Lalu aku akan melemparkan pandanganku ke sekeliling ruangan, sesekali tersenyum sambil menghela nafas panjang serta bergumam:
“Hai kamu. Andai kamu ada di sini. Sudah sekitar 365 hari terakhir aku merindukan kehadiranmu yang sebenarnya. Bukan di dalam layar benda berukuran 10 inch ini”
Ah, kata orang aku terlalu naif
Mereka bilang hidupku terpenjarakan dengan hal-hal tak nyata. Mereka bilang itu kamu
Bahkan beberapa mempertanyakan kalau mungkin aku hanya mengarang cinta 2 negara berjarak 10,000 mil ini
Mungkin di belakangku mereka tertawa dan berpikir bahwa aku bodoh, menggantungkan harapan terlalu tinggi, tidak berani menghadapi kenyataan
(Menghela nafas panjang. Meneguk Thai Tea ku yang esnya makin mencair)
Harus bilang apa?
Toh, mereka tak akan pernah mengerti apa yang kita rasakan
Aku terkadang ingin berkata “Kenapa tak kau urus saja hidupmu? Bukannya menyedihkan mengurusi kehidupan orang lain namun hidupmu belum beres”
Hei kamu
Aku rindu
Jadi, kapan kita bisa duduk dan menikmati kopi bersama?
So I’ll be bold
As well as strong
And use my head alongside my heart
So tame my flesh
And fix my eyes
That tethered mind free from the lies
Greg masih terduduk lemah sepulangnya aku dan dia dari rumah sakit. Dia tidak seperti Greg yang kukenal sebelumnya. Greg yang ceria, tidak bisa diam, agak sulit untuk serius, hidupnya seakan tanpa kesulitan. Tapi kali ini kami berdua hanya saling duduk berhadapan di dekat pintu balkon apartemennya yang terbuka lebar. Semilir angin malam menghempas pelan dan hanya hening yang ada.
“Jika lo tiba-tiba kecelakaan dan Michael nggak bisa dapat info itu dari siapapun, lantas siapa yang akan ngasih tahu dia? Nyokap lo? Kalian kan LDR diam-diam”
Greg yang terdiam sedari tadi akhirnya membuka suaranya sambil tetap tidak menoleh kepadaku. Aku hanya bisa terdiam mendengar pertanyaannya. Bingung untuk menjawab.
“Gue…hmmm…ya….”, seruku bingung sambil tersenyum bodoh
“Harus gue yang kasih tahu?”
Kali ini Greg menatapku tajam seakan ingin mengatakan bahwa aku ini begitu bodoh dan tak memperhitungkan berbagai kemungkinan saat aku memutuskan untuk memiliki hubungan jarak jauh dengan Michael
“Nggak tahu. Gue pun bingung kalau hal yang sama terjadi dengan dia. Gue terkadang membenci diri gue sendiri karena gue nggak mampu melakukan apa-apa. Mau beli tiket pesawat untuk berkunjung, gue belum bisa. Lantas saat ini gue hanya mempertahankan apa yang bisa gue pertahankan”
“Syila, bagaimana kalau saat ini gue bilang kalau gue suka sama lo dan gue pengen lo bahagia dengan orang yang nyata seperti gue, bukan Michael. Apakah itu memungkinkan buat lo?”
“Di saat seperti ini lo masih bercanda Greg? Bener-bener deh lo ya. Gue sangka Greg yang seperti biasa sudah hilang karena lo lagi sakit”
“Kok gitu. Syila…..aku se.ri.us”
Pemenggalan kata? Sejak kapan Greg menggunakan penekanan kata saat dia berbicara. Oh ya sejak kapan pula dia mengganti kata ‘gue’ menjadi ‘aku’. Pasti ada yang salah dengannya
“Pasti karena lo lagi sakit makanya lo jadi kaya gini deh. Gimana kalau gue sekarang pulang dan membiarkan lo istirahat sebanyak-banyaknya supaya Senin bisa beraktifitas lagi”
Aku baru saja bangun dari lantai, ingin bergegas pergi mengambil tas dan jaketku yang tergeletak di sofa, tak jauh letaknya dari pintu balkon. Tapi dengan sigap dan cepat, aku dapat merasakan genggaman tangan yang kuat itu menghentikan langkahku. Berusaha aku mengelak dan melepas, namun tangan itu lebih kuat menahan.
“Greg, gue mau pulang. Sudah malam”
“Nggak sampe lo jawab pertanyaan gue tadi”
“Apa yang harus dijawab, Greg? Kan sudah jelas…aku dan Michael saat ini baik-baik saja. Buat gue dia nyata. Buat gue, Michael dan gue hanya butuh waktu sampai….”
Namun aku kurang sigap menjawab, terlalu lemah hatiku dan pertahanan jiwaku runtuh waktu Greg dengan cepat mendekap aku ke dalam pelukannya dan mencium bibirku dengan lembut. Aku hilang, jiwaku melayang dan tanpa terasa butir-butir air mata jatuh perlahan dari pipiku. Ciuman itu terasa bahagia namun menyayat hati di saat yang bersamaan. Akupun terbius dan tenggelam sehingga tak kusadari aku membalas ciumannya yang penuh perasaan itu. Greg memegang kedua pipiku dengan lembut dan dia mendaratkan kecupan yang begitu manis di dahiku.
“Gue hanya butuh jawaban singkat, Syila. Maaf, tetapi jika lo meminta gue mengerti akan hubungan kalian, gue nggak mau. Lo terlalu berharga untuk dia yang menurut gue kurang berusaha.”
“Gue mau pulang. Kalau lo butuh bantuan nanti telepon gue lagi aja. Oke”
Aku bodoh dan kehilangan arah, kehilangan kata-kata. Setelah Greg mengatakan isi hatinya dan memberikan ciuman yang tak terlupakan itu, lalu aku membalasnya dengan sesuatu yang tak bermakna
“Aku bisa bilang apa lagi, Syila”, Greg tertegun diam dan menghela nafas panjang “baiklah gue anter ya, ini kan sudah jam 10”
“Gue naik taksi aja, Greg. Masih banyak kok jam segini. Biasa pulang jam segini juga taksi berjejer. Mendingan lo istirahat”
“Yah. Baiklah”
Greg berjalan ke arah pintu dengan lemas lalu membukanya. Dia hanya tertegun di sana menatapku dengan tatapan mata yang sayu dan sedih. Membuatku semakin merasa bersalah.
“Lo cepat sembuh. Obatnya ada di plastik di atas meja sebelah tempat tidur lo”
“Iya bawel. Nanti gue minum. Sudah sana pulang”
Kami mengakhiri malam yang aneh itu hanya dengan senyuman yang begitu terpaksa di ujung pintu apartemen Greg. Aku memasuki lift dengan langkah gontai, pikiranku diisi dengan hal-hal yang berkecamuk mencampur menjadi satu. Greg berhasil membuatku kalah telak hari ini dalam permainannya. Bergegas ketika keluar dari area apartemen, aku menghentikan taksi. Belum ada beberapa menit berlalu, handphoneku bergetar dan kulihat ada sebuah pesan LINE di sana.
Syeila, gue minta maaf tadi gue mencium lo tiba-tiba begitu.
Gue tahu lo pasti nggak suka. Pasti lo akan marah banget sama gue. Nggak apa-apa.
Itu salah gue. Bukan salah lo.
Tapi soal pernyataan gue tadi, itu gue sekali katakan serius
Martina Syeila Anggraini, aku sudah lama suka padamu
Namun gue bingung dan berusaha menyembunyikannya. Hingga hari ini, gue sadar saat gue tergeletak sakit dan gue terbangun di Rumah Sakit, ada lo di sana.
Orang yang benar-benar selama ini gue harapkan bisa ada di saat tersulit dalam hidup gue.
Sekali lagi maafin gue ya, Syeila. Cuma maaf yang bisa gue katakan saat ini