Ok. Kejadian yang sama seperti sekitar 10 tahun lalu terulang kembali hari ini. Hasil dari ketidaksadaran seorang ayah yang begitu keras terhadap anggota keluarganya menghasilkan sesuatu yang memilukan. Adik gue sudah sekitar 3 hari ini masuk rumah sakit karena terkena demam berdarah. Kondisinya memprihatinkan dan semakin parah. Kata dokter ini wajar terjadi dalam 5 hari dalam proses penyembuhan (wajar apanya dok, namanya proses penyembuhan ya pasti harus bergerak ke arah yang lebih baik dong….pffttt). Selain karena kondisi cuaca yang tak menentu (pancaroba mungkin?) serta lingkungan yang (katanya) kurang bersih (ya tapi saya sih baik-baik saja, malahan bisa dibilang wilayah kamar saya itu lebih berantakan dan jaran dibersihkan dibandingkan dengan kamar adik saya), dokter mengatakan bahwa adik gue kurang menjaga kesehatan. Bagaimana tidak, kegiatannya bejibun dari pagi sampai malam tetapi makannya sedikit, padahal dia sedang berada dalam masa pertumbuhan. Pagi hari sudah berangkat sekolah dengan tas yang beratnya seperti memanggul beras 5 kg dan harus berjalan kaki (isinya buku semua. gila emang ya sekolah sekarang, pendidikan kok anaknya dipaksa begini. memang kalian nggak bikinin sistem loker aja gitu di sekolah), belum lagi pulangnya dia harus ikut bimbingan belajar dan les band serta kegiatan gereja dan malamnya dia masih harus berada di depan komputer untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Sebagai kakak gue merasa bangga punya adik seperti dia, sudah rajin, pintar dan berpikiran bahwa ilmu itu bisa didapat di luar sekolah selain dari para guru. Pokoknya gue melihat cerminan diri gue dalam diri adik gue. Tapi cuma satu hal yang mungkin belum bisa diduplikasi dari diri gue sama dia, kemampuan untuk bertahan hidup. Gue melihat adik gue belakangan sering berpikir. Bagaimana kuliahnya nanti, bokap banyak ngatur soal perkuliahan ini itu, semua mengatur dia karena yah…you know…anak lelaki satu-satunya di keluarga (persetan lah dengan anggapan tradisional macam ini bahwa anak lelaki harus menjadi segalanya). Gue merasa adik gue yang masih umur belasan mendapatkan beban yang berat yang mungkin belum siap diterimanya. Belum lagi tekanan dari teman sebaya, kalian tahulah bagaimana rasanya berada di usia remaja yang masih mencari jati diri, mudah terombang-ambing dan masih bingung memilih arah. Beban memilih jurusan untuk kuliah, beban dari seorang ayah yang banyak maunya tapi tidak pernah punya tindakan untuk membantu anaknya, beban keuangan dan kekhawatiran akan masa depan. Terlalu berat untuk ditanggung anak seumurnya. Dia pun selalu hanya bungkam kalau bokap gue ngomong sesuatu yang tidak mengenakan hati. Ya, sekali lagi berbeda dengan gue yang sudah punya pemikiran lebih matang dan dewasa. Demi menolak beban dari keluarga, gue berani untuk menolak, berani untuk speak up dengan hal yang tidak gue setujui. Gue nggak mau menjadikan omongan bokap gue yang selalu merasa benar itu untuk menekan kehidupan gue. Gue nggak mau jadi jatuh sakit dan bodoh karena banyak pikiran. Ketika gue nggak suka sama apa yang bokap gue lakukan, gue ngomong, speak up! Buat apa dipendam, memangnya karena dia orang tua, dia tidak bisa berbuat salah. Lihat saja apa yang sudah diperbuat dia sama keluarga ini. Nyokap pernah jadi korban dan adik gue pun ikut terkena imbasnya sekarang. Tapi jangan pernah harap bokap gue bisa bikin gue down, gue nggak selemah itu. Gue memang anak perempuan, tetapi gue bisa sama tegarnya dengan seorang anak lelaki
Entah sampai kapan bokap gue akan sadar kalau semua yang terjadi ini adalah kesalahan dia. Gue pun sadar nggak ada gunanya mengalah sama bokap gue. Kalau mau survive di keluarga ini, ya mesti bertahan, speak up kalau tidak ya terpuruk sendiri
Bokap gue kayaknya harus mulai melihat realita bahwa dia nggak sesuci profesinya. Orang lain boleh melihat bahwa bokap gue adalah pendeta, tapi dia busuk! Bokap gue secara nggak langsung menyiksa sisi kejiwaan nyokap gue setiap hari. Bayangin aja, dengan keadaan perekonomian keluarga yang bisa dibilang agak menyedihkan, bokap gue tidak membiarkan orang lain termasuk nyokap gue untuk membantu menyokong kehidupan keuangan keluarga sejak mereka memulai bahtera rumah tangga. Iya, nyokap tidak diperbolehkan kerja padahal dia sudah tahu bahwa dia tidak sepenuhnya bisa menghidupi keluarga. Akhirnya bertahun-tahun kemudian, saat usia bokap dan nyokap sudah berada di atas 50 tahun, ketika mereka sudah memasuki usia tidak produktif, bokap gue mulai menggantungkan kehidupannya sama nyokap. Anehnya, nyokap masih tiap hari dimarahin, dibilang ‘bego’ sama dia, pokoknya kata-kata kasar yang mungkin kalau gue jadi nyokap, udah dari lama gue pisah saja dari bokap. Pokoknya menyedihkan.
Sebagai anak yang kritis, mana ada yang mau membiarkan nyokapnya disiksa secara kejiwaan seperti itu. Di tahun 2000 pun nyokap bahkan sempat lupa ingatan karena sarafnya terganggu. Ini bukan penyakit, ini gangguan kejiwaan karena terlalu stress menghadapi bokap gue. Bagaimana tidak tertekan jadi seorang istri pendeta yang bisa berucap kata-kata baik di depan orang lain tapi di rumah hanya bisa menyiksa keluarganya sendiri dengan berlaku tidak baik. Bahkan kerap kali, bokap menceritakan kebohngan kepada teman nyokap dan memutarbalikan fakta bahwa sebenarnya dalam hal ini pihak yang dirugikan adalah bokap. Kenyataan sebenarnya adalah gue dan adik gue yang benar-benar mengerti keadaan di rumah kami.
Bokap gue penuh dengan drama. Lebih drama dari manusia manapun di dunia ini. Kalau kita sudah mulai mencoba beradu mulut dengan dia, maka akan keluar kata-kata seperti “kalian memang dendam sama saya”, “Tuhan yang tahu siapa yang benar”, “Kalian sudah dikuasai setan”, “Itulah akibat jarang berdoa dan persekutuan” serta semua hal yang menyangkut ketuhanan akan menjadi perisai dia untuk berdalih. Oh dan lagi, saat semua orang di rumah sudah berhenti berbicara dan beradu mulut, dia akan tetap ngoceh sampai berjam-jam padahal dia yang terlebih dahulu berkata “Sudah kalian diam saja. Saya tahu kalian benci dan punya dendam kesumat sama saya”
Bokap gue adalah contoh orang yang bisa memperbaiki kehidupan orang lain tetapi dia tidak pernah berhasil memperbaiki hidupanya dan keluarganya sendiri. Dia sangat antipati, kolot, menurutnya kesuksesan seseorang diukur dari dia sekolah apa, kuliah di mana, apa jurusannya dan saat lulus nanti dia harus bekerja sesuai dengan jurusannya. Dan yang terbayang sama gue waktu dia bilang gue gagal karena memilih digital advertising ketimbang akuntansi yang menjadi jurusan gue saat kuliah adalah: gue bersyukur gue nggak harus menjadi akuntan atau orang finance yang mungkin akan menghabiskan waktu kerja gue duduk di depan komputer, ngurusin duit orang, dimaki supplier karena bayar tagihan terlambat padahal itu bukan karena mau gue juga melainkan perusahaan yang menahan-nahan pembayaran, membiarkan otak kiri gue terus berjalan tanpa membangkitkan kreativitas gue. Intinya sih bokap cuma pengen bilang, advertising itu pekerjaan sampah. Iya, pekerjaan sampah karena orang iklan nggak ada masa depannya dibanding ilmu seperti akuntansi. Bahkan saat adik gue mau memilih jurusan kuliah di ITB yang berhubungan dengan mesin penerbangan, bokap cuma bilang kalau pilih jurusan yang serius. Lah? Kurang serius bagaimana adik gue pilih jurusan kaya gitu. Sebagai kakak yang nggak mau masa depan adiknya dihancurkan hanya karena sebuah omongan yang menjatuhkan semangat, gue tentu saja nggak terima. Adik gue terlalu pintar untuk hidupnya terlalu diatur dengan detail sama bokap. Gue nggak mau adik gue berakhir hidupnya seperti nyokap yang akhirnya patuh dan tunduk seperti budak.
Inti dari tulisan ini sebenarnya hanya ingin curhat saja sih bahwa masih banyak orang tua kolot di jaman yang sudah maju ini. Pemikiran-pemikiran dangkal bokap yang terkadang membuat gue berpikir untuk yah nanti-nanti sajalah menikah kalau memang hidup wanita pada akhirnya tersiksa seperti nyokap gue. Gue udah melihat contoh nyata kok. Jika gue masih punya kesempatan untuk mengukir prestasi tanpa ada batasan dan halangan, kenapa tidak? Gue suka belajar hal baru, gue setiap hari upgrade ilmu untuk menjadi bekal diri gue sendiri, gue nggak mau nantinya jadi cewek biasa yang cuma manggut-manggut sama cowok yang sebenarnya menindas hidup gue. Yah, gue nggak pernah tahu sampai kapan bokap gue akan begini. Cuma waktu yang sepertinya bisa mengubah dan menyadarkan dia.
This reminds me of the wonderful work of Paul Arden. As creative people who are behind this blog it makes us think about our creativity and what it means to us.
The idea of looking at things differently. We give power to our words, we give meaning to how we look at the world.
That we should try to look at the big picture, be aware of our lives in context. What is in front of us. Life is crazy, wonderful and amazing. Everyday.
As creatives we can choose how we see things. We can keep pushing, we can keep trying, failing and trying again. Each time learning new things. We can see the cold spaces and accept them, or we can change them.
We could float though our jobs if we choose to, delivering ideas, creations and thoughts that offer no value to the world but make very disconnected people in suits smile, or we can choose to really look at the world. Look at what we create that solves problems, speaks a human truth and will speak louder for our clients than any tick box campaign ever could.
None of this is easy, no one ever takes our creativity away from us. No one ever takes our hunger. We give it away, we let ourselves be settled and stop. We stop choosing to look. To investigate. To have passion. We choose not to let ourselves enjoy the creative process. We tell ourselves it is work, we pressure ourselves. We move forward but not with determination but time.
Hanging up posters of inspiring quotes, meaningless subscriptions to magazines that sit unread will not motivate us. We must step outside of our comfort zones, imagine the world through someone else’s eyes and through them look at ourselves.
See the things in us, the things that really matter.
Choose, choose to look at things differently. Choose to be the odd one out, the one who’s always thinking. The one that can’t help but share an idea, smile at creation and have passion in even the smallest things that you try to do.
Most of all, keep being you. Don’t become a copy or be like anyone else. You alone are who you are, there will only be one of you and you need to be yourself, as what you are is amazing.
This, like the video isn’t telling you to do any of this but to remind you that you have a choice and you should use it.
Orang yang memiliki visi ke depan dan berani mengubah, adalah mereka yang berusaha memperbaiki keadaan yang buruk sekalipun, ketimbang pergi meninggalkan karena rasa takut yang menyelimuti jiwa.
Jika di setiap tempat kita hanya menjadi mereka yang mengikuti arus dan tidak melakukan perubahan, kemanapun kita pergi, pemikiran kita akan selalu sama. Kita tidak akan pernah merasa nyaman
Saya belajar bahwa solusi dari keterpurukan bukanlah meninggalkan namun mencoba perlahan untuk memperbaiki dan mengembangkan hal yang kita yakini akan berhasil.
Optimis dan percaya pada potensi diri adalah senjata utama dan modal paling besar yang kita butuhkan agar dapat bisa beradaptasi di manapun di dunia ini nasib membawa kita
Pesimis adalah sesuatu yang dapat membunuh. Jauh lebih bahaya dibandingkan penyakit apapun di dunia ini. Jadi, kalau tidak membuang ‘penyakit pesimis’ sejak sekarang, 1000 impian dan angan-angan yang ada di pikiran kamu hanyalah kesia-siaan
Tiap hari adalah pembaharuan pikiran. Setiap kali kita bangun pagi, otak kita terprogram untuk tunduk sama yang namanya rutinitas dan kita nyaman dengan hal itu. Kita menjalani hari yang berbeda dengan aktivitas yang hampir sama setiap menitnya bahkan setiap detiknya. Beberapa orang memutuskan untuk mengikuti jalan yang sudah ada, beberapa orang selalu berusaha untuk mencari cara baru untuk mematahkan rutinitas. Semua itu kembali kepada pribadi masing-masing yang mau tersentuh sama perubahan atau tidak.
Terus terang beberapa waktu belakangan ini saya mulai bosan dengan yang namanya rutinitas. Saya bosan hidup biasa-biasa saja sih dan suka dengan yang namanya perubahan. Saya suka hidup seperti karet yang elastis, fleksibel dan bisa menyesuaikan diri di manapun saya berada. Ngapain jadi orang yang biasa saja jika kamu bisa jadi orang yang luar biasa. Lantas apa saja yang sudah saya lakukan untuk mematahkan rutinitas dan menjauh dari yang namanya takut dengan perubahan. Demikian kiranya yang bisa saya share, mungkin yang baca bisa mendapatkan inspirasi baru, semoga berguna
1. Mengubah tata letak icon di iPad selama seminggu sekali akan melatih otak kita untuk selalu kaget dengan perubahan. Ini bukan hal yang buruk kok. Semakin bertambahnya usia, otak kita bisa jadi mulai tidak produktif. Nah, cara yang bisa kita lakukan adalah dengan sering-sering nyetrum otak dengan berbagai cara. Ini salah satunya
2. Sedikit memaksa otak untuk belajar hal baru. Coba deh cari tutorial-tutorial aneh di YouTube yang bisa kita tonton dan praktekan sendiri. Selain melatih otak untuk menghafal dengan cepat tentunya pemanasan otak akan lebih mengaktifkan saraf-saraf yang ada supaya berpikir bisa menjadi lebih lancar
3. Percaya bahwa ilmu yang kita pelajari saat sekolah dan kuliah bukanlah segalanya. Terus terang saja, saya senang membaca baru belakangan ini. Saya menemukan dunia sendiri dan semakin saya tenggelam di dalamnya, saya tidak mau keluar lagi. Terima kasih untuk teknologi saat ini, saya bisa menyerap begitu banyak hal baru dengan gratis, cepat dan mudah
4. Selalu miliki rasa penasaran dan rasa ingin tahu yang kuat. Jangan lupa sertakan rasa ingin belajar yang besar. Sesungguhnya kalau kita senang belajar dan ngulik, pengetahuan yang akan kita dapatkan akan lebih banyak
5. You don’t always have to be the follower. Set ketentuan dan standar sendiri nggak selamanya salah. Setiap orang punya standar hidup sendiri. Orang lain mungkin bisa bilang “Iya, tapi itu kan hidup lo. Jangan samain dong!” Tapi kita hidup di dunia ini untuk jadi orang yang luar biasa dan orang-orang luar biasa selalu punya pattern yang dibuatnya sendiri. Dia tidak terpengaruh dengan perkataan orang lain
Kadang saya sendiri tahu bagaimana orang memandang saya. Cuek, jutek, serius. Tapi itulah saya. Saya tidak hanya ingin memimpikan untuk memiliki kehidupan yang sama hebatnya dengan orang-orang yang saya kagumi, saya ingin menjalani dan mengetahui pola pikiran mereka yang positif, optimis dan memiliki mindset orang luar biasa. Lagipula hidup saya sudah terlalu sulit untuk dibuat jadi biasa saja, menjadi outstanding adalah keharusan.
Jadi tentukan saja kamu mau menjadi manusia seperti apa? Statis jalan di tempat dan jadi orang biasa atau bergerak berusaha dan berubah untuk jadi orang yang luar biasa:)
Mie goreng yang masih hangat di depanku asapnya mengepul pekat. Aku hanya mengaduk mencampur bumbunya hingga merata sembari memutar-mutar garpu. Jika keseluruhan warnanya mulai menjadi cokelat, maka kemungkinan bumbu telah tercampur rata meski mungkin masih ada bumbu padat yang tidak terurai.
Mataku merasakan hangatnya uap yang dihasilkan dari mie goreng panas ini. Entah sambil memikirkan yang lain, tapi aku lagi-lagi ingin menangis.
Hari-hari belakangan ini kukenakan topeng bahagia dan senyum ku. Hahahaha…siapa sih yang akan menyadarinya. Lagi-lagi yang orang lain tahu hanya aku yang tak pernah punya masalah dan melenggang riang melewati jembatan kehidupan. Tapi ketika aku kembali membuka pintu gerbang rumahku, menuju kamarku dan merebahkan diri di atas tempat tidur yang bahkan kasurnya pun membuat tulang punggungku nyaris patah, aku menanggalkan sesaat selama kurang lebih 6 jam seluruh kepalsuan yang secara otomatis akan kukenakan saat wajah ini harus menghadapi Sang Surya setiap harinya.
Di dalam otak ini banyak hal yang saling berhimpitan meminta perhatianku untuk digapai, tak ingin diabaikan, tak ingin dibuang serta dilupakan. Namun siapakah aku dapat mengingat segalanya dan ingin merasa selalu hebat serta meringankan pikiran dari hal-hal yang kadang penting kadang sepele. Ditambah lagi dengan gundah yang bercampur aduk dengan problema berbalut rasa hampa. Aku cuma ingin teriak…AAAAARRRGGGHHHHHHHHH!!!!!!!
I used to feel incredibly sad about the fact that I do not have many friends.
My therapist once asked me “So, what do you do besides work?”
And I literally had no answer. I was speechless. I told her I attend classes, but when she asked if I had any friends there that I saw outside of class,…
Malaysian Artist, Hong Yi, just finished her thirty-one day edible art challenge last week. She truly takes playing with your food to the next level. Keep reading to hear more about her amazing project!
april 21st. purple addict. social media junkie. love balloons. photography. a simple taurus. hate roses. keep everything simple. first and last daughter in the family. love glasses. internet and techno freak. iOS & android. chubby. music & movie best friend. digital advertising